Langsung ke konten utama

BEKALI MEREKA

BEKALI MEREKA


20-11-18
*lae-lae Beach*
"20-11-18"

Bagai mana perasaanmu jika kau adalah seorang perempuan yang berusia 26 tahun dan belum menikah kemudian beberapa waktu lalu ada seorang pemuda berusia 14 tahun yang menyatakan cinta dengan berdalih, “Cinta tak pandang umur”?. Mungkin kata-kata itu akan terasa menggelitik dan kamu akan menanggapinya dengan candaan. Yah, seperti aku yang menganggap itu adalah permainan, apa lagi usianya memang dalam masa ingin tahu ini dan itu, ingin coba ini dan itu. Tapi bagai mana jika ia menunjukkan sikap kedewasaannya? Ia be rusaha meyakinkanmu bahwa umur tidak menjadi patokan dalam kedewassaan sikap seseorang. Walaupun begitu aku masih menganggapnya itu adalah suatu usaha baginya belajar menjadi dewasa, apa lagi sekarang ia merasa bahwa dirinya sedang jatuh cinta pada perempuan yang lebih dewasa dari dirinya. Maka, tentunya ia berusaha belajar keras untuk mendewasakan diri walau sesungguhnya ia memang belum dewasa, ia hanya merasa telah dewasa. Ia ingin memenangkan hasratnya, sambil terus berusaha meyakinkan perempuannya, ia akhirnya akan bertanya “Apakah aku masih anak-anak bagimu?” Nah, kalau sudah begini jawaban apa yang perlu diberikan? Tapi, aku pikir aku bisa membantunya untuk mengelola rasa itu. Ia sedang bertumbuh kembang, tentunya sangat perlu untuk mengarahkannya ke hal-hal positif.


Di waktu yang lain. Aku sebagai perempuan yang berusia 26 tahun itu kembali menghadapi persoalan yang sama. Kini seorang pemuda berusia 17 tahun yang menyatakan cinta padaku. Dengan dalih ingin mencari perempuan yang lebih dewasa sebab ia telah beberapa kali kecewa dan tersakiti oleh perempuan sebayanya mau pun yang lebih muda darinya. Ia ingin perempuan dewasa karena ia merasa membutuhkannya, baginya perempuan dewasa adalah perempuan yang pengertian dan mungkin bisa memahami dirinya sehingga bisa membuat ia merasa nyaman dan bisa belajar menjadi lelaki yang lebih dewasa lagi dari si perempuannya. Namun perempuan di usia yang sudah dituntut untuk menikah tentunya berpikir bahwa itu adalah godaan dalam menanti jodohnya. Tak bisa dimungkiri bahwa hatiku merasa  senang dengan kata-kata cinta yang ditujukan kepadaku. Tetap kurespons sebagai mana aku merespons pemuda pertama yang berusia 14 tahun. Aku tidak heran jikalau mereka merasa jatuh  cinta padaku, meski umurku telampau jauh dengan umurnya, aku tidak cantik, aku pun tidak kaya. Aku hanya memberi mereka cinta di setiap perjumpaan kami, aku memberi rasa nyaman, dan aku selalu berusaha memahami problem yang mereka hadapi. Alhasil mereka pun merasa dimengerti dan dicintai olehku. Namun yang kupikirkan adalah perasaan cinta yang ada di hati mereka, yang mendorong mereka seolah ingin memiliki diriku. Mereka hanya sedang dalam permainan rasa yang akan menjebak dirinya yang masih kurang akan pengetahuan dan pengalaman. Aku hanya bisa menerka-nerka mungkin saja ia hanya merasa kagum, kasihan, simpati, nyaman, dan lain sebagainya. Akan tetapi mereka belum bisa membedakan akan rasa itu yang sedang ia rasakan saat ini sehingga begitu mudahnya ia mengataka “I love you”. Sangat penting bagi mereka remaja untuk dibekali pengetahuan tentang perasaan-perasaan yang kerap kali menghinggapi hidup ini dan bagai mana mengolahnya agar tidak tersalurkan ke dalam bentuk perbuatan yang menyia-nyiakan waktu mereka.
Tentunya ini adalah tantangan mengasyikkan bagiku dan bagi anda-anda yang ingin mencobanya. Aku yang sering melakukan kontak sosial dengan adik-adik yang sedang dalam masa peralihan antara masa remaja ke masa dewasa awal, sering kumencoba membimbing mereka dan menyampaikan sedikit pengetahuan dan pengalamanku dalam mengelola perasaan-perasaan yang sering kali menghinggapi hati seorang remaja seperti perasaan “jatuh cinta”. Dengan caraku yang mau berbagi dengan mereka tentang kisa yang menurut mereka itu adalah rahasia hati yang sulit untuk diceritakan, membuat mereka merasa dimengerti dan mereka pun terkadang membagi rahasia hatinya, karena mereka telah percaya bahwa aku bisa memberinya solusi. Menjadikan remaja sebagai sahabat para pendidik atau orang-orang yang menginginkan kebaikan moral bagi generasi penerus, tentunya sangat dibutuhkan kreativitas dalam mengarahkan mereka. Membuat mereka nyaman dan mau berbagi problemnya itu sangatlah penting untuk kita bisa membimbing mereka.***

widya&Nita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

**KITA TAK BERJODOH** Mulanya kuanggap permainan semata, bukti-bukti tak membuatku percaya, foto-foto mesra dan telepon seorang perempuan yang seringkali mengusik keseharianku sedikitpun tak membuatku cemburu,  karena semua masih tetap kuanggap sebagai permainanmu untuk mengujiku. Tetapi hari demi hari perempuan itupun tetap saja mengusik kehidupanku dengan telepon dan sms-sms yang masuk dihandphoneku....ditambah status-status di sosmed yang semakin mesra dipandanganku membuat hatiku malah semakin teriris yang mulanya kuanggap biasa-biasa saja namun ternyata engkaupun sama memamerkan kemesraanmu, Entah itu foto lama atau hanya rekayasamu saja memasang foto layaknya suami istri beserta anak-anakmu yang semakin membuat hatiku tercabik-cabik.....beberapa menit kupandangi upload-tan” yang di unggah beberapa menit yang lalu   itu,   tak menyangka air matakupun jatuh membasahi layar touchscreen handphoneq. Dalam hatiku cukup berkata “Benarkah ini yang kulihat sekaran...
Akan Indah Pada Waktun y a *widwee*pct Aku pernah berpikir mengapa harus kamu? Mengapa tidak orang lain saja? Aku tahu mencintaimu tidaklah mudah mesti melalui banyak ujian kesabaran. Aku tak pernah inginkan rasa ini. Saat kusadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu, aku marah, aku benci, aku memberontak, aku protes, aku tidak inginkan rasa ini. Aku sadar bahwa aku bukanlah pribadi yang tangguh, aku tidak bisa lalui ujian-ujian karena mencintamu, aku tidak memiliki hati yang kuat dan aku pun tak mampu sabar setiap saat. Aku lari dari rasa itu. Namun bayangmu mengejarku dan mengikuti kemana aku pergi. Aku berusaha menguburnya di dalam tanah tapi ia malah tumbuh dan berbunga. Aku membuangnya di dasar laut tapi ia menjelma menjadi mutiara berkilau nun indah. Sampai hari itu tiba, di mana aku merasa lelah dan tak berdaya lagi untuk lari dari rasa itu. Semakin aku ingin melupakannya semakin ia muncul dalam ingatan. Akhirnya kubiarkan rasa itu menguasai diriku, kunikmati sa...