Langsung ke konten utama

UANG BUKAN SEGALANYA

                         *UANG BUKAN GALANYA*
 
Aku menangis dalam persembunyian. Perih rasa hati ketika kudengar pertengkaran antara Ayah dan Ibu, hanya menyoalkan tentang Uang. Ayah bertanya. "Mengapa uang cepat sekali habis?" Dan ketika Ibu menjelaskan bahwa, "Memang kebutuhan rumah tangga dan biaya anak sekolah semakin mahal". Namun ayah tetap menyalahkan Ibu. Ayah menjustis bahwa Ibu memang "Boros" Tidak bisa mengatur uang belanja. Perdebatan mereka berlangsung lama, tanpa mereka sadari keberadaanku di dalam kamar yang mendengar semua perdebatan itu. Ayah dan Ibu tidak pernah ingin perdebatan mereka didengar ataupun dilihat oleh anak-anaknya. Aku terus menangis, ada sesak terasa di dada dan ada sesuatu yang mengganjal rasa sakit di tenggorokan, sepertinya aku tak mampu untuk menahan suara tangis yang ingin segera meledak. Aku tak ingin Ayah dan Ibu menyadari keberadaanku, akhirnya aku berfikir untuk keluar melalui jendela kamar. Segera aku berlari ke tempat persembunyianku di ujung pantai pulau Selayar, disana aku menangis sekencang-kencangnya. Kukeluarkan semua yang mengganjal di tenggorokan dan sesak di dada.



Aku tidak bisa terima kenyataan ini. Mengapa mereka bertengkar hanya karena persoalan uang. Aku benci uang, uang hanyalah lembaran-lembaran kertas yang begitu lemah, mudah di sobek dan di bakar. Uang hanyalah alat untuk melancarkan transaksi manusia sebagai solusi dari cara barter. Aku tak terima jika uang yang hanya lembaran kertas itu menjadi pengendali hidupku maupun keharmonisan dalam keluargaku. Tak bisa dipungkiri bahwa segalanya butuh uang. Tapi, bagiku uang bukanlah segalanya. Yang terpenting bagiku adalah kemerdekaan dari ketergantungan pada lembaran kertas yang membelenggu diri. Aku harus menjadi manusia yang kuat secara mental dan menjadi manusia kreatif yang mampu mencipta, sehingga uang tidaklah dapat mengendalikan hidupku. Akan tetapi, akulah yang mengendalikannya sesuai fungsinya sebagai alat melancarkan suatu transaksi. Uang seringkali menjadi tujuan hidup seseorang, ada yang rela menipu, menggadai harga dirinya, membunuh, merampok, dan melakukan tindakan kejahatan lainnya demi lembaran-lembaran kertas itu, saat kumelihat tindak kejahatan yang di sebabkan oleh uang, hatiku sedih dan terus protes atas semua kejadian yang disebabkan oleh kertas yang bernama uang.

"Mengapa,mengapa,dan mengapa?" Pertanyaan susul-menyusul dalam kepalaku. Aku menjadi benci dengan uang yang terkadang membuatku menantang diri sendiri ketika sudah tak memiliki uang sepeser pun. Kutantang diriku, "Apakah aku bisa melakukan aktivitas tanpa uang?", Apakah aku bisa berkunjung ke rumah sanak keluarga yang lumayan jauh dari tempat tinggalku tanpa menggunakan kendaraan yang membutuhkan biaya dan itu memerlukan uang?". Kuyakinkan diriku 'Aku pasti bisa' pada jaman dahulu saja orang berjalan kaki sampai berhari-hari untuk bisa sampai ke tempat tujuannya, mengapa aku tidak? Kami sama-sama diciptakan sebagai manusia yang memiliki kemampuan. Meskipun anak jaman _now_ sering dipandang lemah oleh orang yang sudah merasa tua atau memang karena mereka sudah tua, penilaian mereka itu tidaklah salah. Tapi, aku sebagai anak jaman _now_ membuktikan bahwa jaman kita memang berbeda. Namun, kita bisa menjadi pemeran terbaik di jaman kita masing-masing. Yah, kami anak jaman _now_ memang cengeng karena kami dibentuk dan bertumbuh di lingkungan yang serba instan, memanjakan kami dengan segala fasilitas yang memudahkan tugas-tugas yang kami emban. Tapi bukan berarti kami tidak bisa keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu seperti yang pernah kalian lakukan. Berjalan berkilo-kilo meter kehujanan dan kepanasan, bertani,melaut, berternak, menadah air hujan, mengambil rumput, bersekolah di tempat yang sulit dijangkau dan lain sebagainya. Kami anak jaman _now_ bisa, Kami hanya butuh keyakinan diri dan memupuk keinginan serta semangat untuk melakukannya. Kami yang dimanjakan oleh fasilitas kendaraan motor dan mobil yang memerlukan biaya mahal dan memberi efek yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu pencemaran udara yang mengandung zat-zat toksin atau beracun. Memberi tantangan tersendiri bagi kami , bagaimna memanage penggunaan-penggunaan transportasi tersebut.

Aku pernah mencoba berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya dan perjalanan itu sangat menyenangkan bagiku. Banyak yang tak percaya saat kuceritakan perjalananku itu, salah satu pamanku bahkan mencibir dan menertawaiku dan berkata. "Ini bukan jaman nabi yang dimana orang mampu berjalan berkilo-kilo jauhnya.....😂😂" Dan salah seorang teman waktu itu ikut bersamaku mencoba meyakinkan mereka. Bahwa memang kami berjalan kaki sejauh itu. Mereka semua mengangguk , tapi sepertinya masih kurang percaya sebab temanku itu memiliki riwayat penyakit jantung. Jadi, difikiran mereka mana mungkin temanku jalan denganku berkilo-kilo jauhnya?? Kami tidak memaksa untuk dipercaya, kami mengerti dijaman sekarang memang sulit untuk mempercayai hal-hal semacam itu dimana kemajuan tekhnologi sudah sangat brutal dan menggila. Dalam perjalanan itu aku bertanya beberapa hal pada temanku itu yang selaku Mahasiswa S.2 fisika Universitas Negeri Makassar, aku bertanya bagaimana cara mengukur jarak tempuh perjalanan kami dalam rumus fisika? Meskipun sudah dipelajari di bangku sekolah, tapi aku sudah tidak ingat lagi. Maka dalam penjelasan temanku, mengatakan bahwa untuk mengukur jarak tempuh yaitu: jarak sama dengan kecepatan dikali dengan waktu (jarak=kecepatan X waktu). jadi, untuk mengetahui jarak tempuh perjalanan kami. Maka, hitunglah kecepatan langkah kita lalu dikali dengan waktu yang kita gunakan. Tapi kami tidak memperhatikan jam saat memulai perjalanan itu, kamipun gagal dalam menghitung jarak tempuh yang sebenarnya, karena kami hanya mengira-ngira waktu start keberangkatan kami.

Perasaan memang menghinggapiku, aku memenangkan tantangan itu. Tanpa uang aku masih bisa kesana-kemari dengan menggunakan nikmat Tuhan yang berupa kaki yang kuat untuk digunakan menapaki jalan-jalan itu. Inilah salah satu usahaku dalam membuktikan bahwa uang bukanlah segalanya, dan masih banyak lagi cara lain untuk membuktikan itu. Aku tak pernah pelit untuk membelanjakan uang yang kumiliki karena memang sifat uang datang dan pergi. Memiliki uang ataupun tidak, itu hal biasa bagiku. Tak perlu pusing karenanya ! Aaakkh....kemarahanku pada lembaran kertas itu masih sering mengusikku , tersebab ia masih saja terus menjadi kebutuhan penyambung hidup. Aku marah jika ia menjadi penyebab suatu kehancuran keharmonisan rumah tangga, perusak pertemanan, menjadi pemicu tindakan kejahatan. Padahal lembaran kertas itu juga bisa menjadi sumbangsih besar untuk kemaslahatan umat manusia dan dalam pembangunan berbangsa dan bernegara. Uang bukanlah Tuhan. Tapi banyak orang yang menuhankan uang tanpa ia sadari. Uang telah menjadi Tuhan-tuhan kecil di dalam kehidupan ini, ia mampu merubah segalanya seperti Tuhan yang berkehendak atas segala sesuatu. ***



Wid_Widdiww13"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BEKALI MEREKA

BEKALI MEREKA *lae-lae Beach* "20-11-18" Bagai mana perasaanmu jika kau adalah seorang perempuan yang berusia 26 tahun dan belum menikah kemudian beberapa waktu lalu ada seorang pemuda berusia 14 tahun yang menyatakan cinta dengan berdalih, “Cinta tak pandang umur”?. Mungkin kata-kata itu akan terasa menggelitik dan kamu akan menanggapinya dengan candaan. Yah, seperti aku yang menganggap itu adalah permainan, apa lagi usianya memang dalam masa ingin tahu ini dan itu, ingin coba ini dan itu. Tapi bagai mana jika ia menunjukkan sikap kedewasaannya? Ia be rusaha meyakinkanmu bahwa umur tidak menjadi patokan dalam kedewassaan sikap seseorang. Walaupun begitu aku masih menganggapnya itu adalah suatu usaha baginya belajar menjadi dewasa, apa lagi sekarang ia merasa bahwa dirinya sedang jatuh cinta pada perempuan yang lebih dewasa dari dirinya. Maka, tentunya ia berusaha belajar keras untuk mendewasakan diri walau sesungguhnya ia memang belum dewasa, ia hanya merasa t...
**KITA TAK BERJODOH** Mulanya kuanggap permainan semata, bukti-bukti tak membuatku percaya, foto-foto mesra dan telepon seorang perempuan yang seringkali mengusik keseharianku sedikitpun tak membuatku cemburu,  karena semua masih tetap kuanggap sebagai permainanmu untuk mengujiku. Tetapi hari demi hari perempuan itupun tetap saja mengusik kehidupanku dengan telepon dan sms-sms yang masuk dihandphoneku....ditambah status-status di sosmed yang semakin mesra dipandanganku membuat hatiku malah semakin teriris yang mulanya kuanggap biasa-biasa saja namun ternyata engkaupun sama memamerkan kemesraanmu, Entah itu foto lama atau hanya rekayasamu saja memasang foto layaknya suami istri beserta anak-anakmu yang semakin membuat hatiku tercabik-cabik.....beberapa menit kupandangi upload-tan” yang di unggah beberapa menit yang lalu   itu,   tak menyangka air matakupun jatuh membasahi layar touchscreen handphoneq. Dalam hatiku cukup berkata “Benarkah ini yang kulihat sekaran...
Akan Indah Pada Waktun y a *widwee*pct Aku pernah berpikir mengapa harus kamu? Mengapa tidak orang lain saja? Aku tahu mencintaimu tidaklah mudah mesti melalui banyak ujian kesabaran. Aku tak pernah inginkan rasa ini. Saat kusadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu, aku marah, aku benci, aku memberontak, aku protes, aku tidak inginkan rasa ini. Aku sadar bahwa aku bukanlah pribadi yang tangguh, aku tidak bisa lalui ujian-ujian karena mencintamu, aku tidak memiliki hati yang kuat dan aku pun tak mampu sabar setiap saat. Aku lari dari rasa itu. Namun bayangmu mengejarku dan mengikuti kemana aku pergi. Aku berusaha menguburnya di dalam tanah tapi ia malah tumbuh dan berbunga. Aku membuangnya di dasar laut tapi ia menjelma menjadi mutiara berkilau nun indah. Sampai hari itu tiba, di mana aku merasa lelah dan tak berdaya lagi untuk lari dari rasa itu. Semakin aku ingin melupakannya semakin ia muncul dalam ingatan. Akhirnya kubiarkan rasa itu menguasai diriku, kunikmati sa...